Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi‑tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Selain itu, untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor.

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) adalah suatu mekanisme pelayanan korban/pasien gawat darurat yang terintegrasi dan berbasis call center menggunakan kode akses telekomunikasi dengan melibatkan masyarakat. SPGDT bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kegawatdaruratan dan mempercepat waktu penanganan korban/pasien gawat darurat sehingga dapat menurunkan angka kematian serta kecacatan. SPGDT memegang peran penting dalam pelayanan masyarakat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional.

Penyelenggaraan SPGDT terdiri atas sistem komunikasi gawat darurat, sistem penanganan korban/pasien gawat darurat, dan sistem transportasi gawat darurat. Ketiga sistem tersebut harus saling terintegrasi satu sama lain. Masyarakat yang mengetahui dan mengalami kegawatdaruratan dapat melaporkan dan/atau meminta bantuan melalui Call Center. Operator Call Center memiliki tugas menerima, menjawab panggilan, memverifikasi laporan kejadian gawat darurat; mengoperasikan komputer dan aplikasi sistem informasi untuk mencatat informasi panggilan darurat dari masyarakat.

Dalam SPGDT, mekanisme komunikasi dan kolaborasi rujukan antarfasilitas pelayanan kesehatan dalam jejaring memiliki peranan sangat penting. Tantangan sistem rujukan antara lain permasalahan keterlambatan dan kendala komunikasi-koordinasi antara perujuk dengan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan. Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik maka  fasilitas kesehatan rujukan menjadi lebih siap menerima pasien, rujukan lebih terarah, pasien sudah distabilisasi sebelum dirujuk, serta ada kolaborasi antara perujuk dengan fasilitas rujukan.

PSC (Public Safety Center) atau Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu adalah pusat pelayanan di kabupaten/kota yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan. PSC merupakan ujung tombak pelayanan untuk mendapatkan respon cepat dalam penyelenggaraan SPGDT. Dalam menyelenggarakan PSC di kabupaten/kota, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai dengan dukungan teknologi informasi yang mudah diakses dalam jejaring rujukan. Sistem informasi dan komunikasi  jejaring rujukan pelayanan kesehatan ini harus berfungsi secara terintegrasi melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan primer, fasilitas pelayanan kesehatan rujukan, serta Dinas Kesehatan.

Khusus dalam upaya penurunan jumlah kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita, Selain permasalahan dalam rujukan gawat-darurat, rujukan dini terencana ibu hamil berisiko tinggi yang diawali dengan pendataan ibu hamil sering tidak termonitor. Padahal, semua ibu hamil dengan faktor risiko tinggi seharusnya mendapatkan pengawasan ketat, supaya tidak mengalami gawat-darurat yang penanganannya lebih sulit. Oleh sebab itu, Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWSKIA) merupakan proses yang sangat penting. Selain sebagai alat untuk memantau kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir, bayi dan balita, juga untuk menilai sejauh mana keberhasilan serta sebagai bahan untuk perencanaan program atau kegiatan di tahun-tahun berikutnya.

PWSKIA adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita. Kegiatan PWSKIA terdiri dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak/instansi terkait dan tindak lanjut.

Dengan PWSKIA diharapkan cakupan pelayanan dapat ditingkatkan dengan menjangkau seluruh sasaran di suatu wilayah kerja. Dengan terjangkaunya seluruh sasaran maka diharapkan seluruh kasus dengan faktor risiko atau komplikasi dapat ditemukan sedini mungkin agar dapat memperoleh penanganan yang memadai. Penyajian PWSKIA juga dapat dipakai sebagai alat advokasi, informasi dan komunikasi kepada sektor terkait, khususnya aparat setempat yang berperan dalam pendataan dan penggerakan sasaran. Hasil analisis PWSKIA di tingkat puskesmas dan kabupaten/kota dapat digunakan untuk menentukan puskesmas dan desa/kelurahan yang rawan.

Tantangan lain upaya penurunan jumlah kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita adalah pengambilan keputusan yang terlambat atau tidak tepat di masyarakat akibat kurangnya pengetahuan ibu maupun keluarganya terkait kehamilan sehat dan tanda-tanda bahayanya. Kematian ibu bisa disebabkan karena anemia dalam kehamilan. Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan nifas. Meningkatnya proporsi ibu hamil dengan status gizi yang rendah dan kekurangan energi kronis (KEK) menyebabkan terjadinya peningkatan kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi yang lahir dalam kondisi BBLR apabila dalam pertumbuhan dan perkembangannya gagal untuk tumbuh kejar maka ia akan jatuh dalam status gizi kurang, bahkan gizi buruk. Dan otomatis ke depannya anak akan mengalami gangguan tumbuh-kembang secara keseluruhan, karena kekurangan gizi yang dialaminya akan mengakibatkan pertumbuhan perkembangannya tidak maksimal. Stunting atau tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan usia anak salah satunya disebabkan karena kurangnya perhatian masyarakat khususnya ibu hamil terhadap asupan gizi baik pada saat hamil ataupun 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Diperlukan upaya pembelajaran bagi ibu hamil, suami dan keluarga terkait mempersiapkan ibu hamil dalam menjalani masa kehamilan yang sehat dan normal, menghadapi persalinan yang aman dan nyaman. Beberapa contoh pengetahuan dan keterampilan yang perlu diketahui ibu hamil dan juga keluarganya, di antaranya mengenai senam ibu hamil, gizi yang dibutuhkan selama kehamilan, latihan pernafasan pada persalinan, dan cara menyusui bayi yang baik.

Mengingat pentingnya edukasi bagi ibu hamil dan keluarganya, maka sudah seharusnya para pemangku kebijakan melaksanakan program edukasi yang intensif dan mendalam mengenai kesehatan kehamilan, nifas, dan tumbuh kembang bayi sebagaimana dicontohkan di atas. Salah satu tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah meningkatkan kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak. Kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak diwujudkan dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keluarga. Penyampaian informasi dan konten pembelajaran melalui perangkat telepon genggam (HP) dapat menjadi solusi dalam mengedukasi serta menyediakan sarana belajar ibu-ibu hamil dan keluarganya. 

Saat ini di sudah tersedia aplikasi komputer yang memadai untuk keperluan sistem informasi dan komunikasi di PSC kabupaten/kota. Aplikasi yang dikembangkan oleh PT Sijarimas Teknologi Inovasi tersebut memiliki fitur untuk pelaporan kejadian gawat darurat dari masyarakat, sarana komunikasi dan sistem informasi  bagi petugas PSC, serta pertukaran rujukan (referral exchange) dalam jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di kabupaten/kota. Untuk mempermudah proses pengumpulan data, pengolahan, dan analisis dalam PWSKIA, saat ini PT Sijarimas Teknologi Inovasi juga sudah mengembangkan aplikasi PWSKIA SIJARIEMAS. Sedangkan untuk keperluan pengingat dan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, PT Sijariemas mengembangkan aplikasi INFOBUNDA. Penggunaan aplikasi SIJARIEMAS PSC, Rujukan, PWSKIA dan INFOBUNDA di kabupaten/kota dapat memenuhi kebutuhan kabupaten/kota dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang berkelanjutan (continuum of care).

Selain mengembangkan aplikasi-aplikasi tersebut, PT Sijarimas Teknologi Inovasi juga menyediakan layanan operasionalisasi teknis keempat aplikasi tersebut bagi kabupaten/kota yang membutuhkan. Dengan layanan operasionalisasi ini, maka Dinas Kesehatan kabupaten/kota yang bekerjasama dengan PT Sijarimas Teknologi Inovasi tidak perlu mengurus kebutuhan operasional server aplikasi dan pemeliharaan aplikasinya. Dinas kesehatan tinggal mengurus promosi kepada sasaran penggunanya, serta melakukan proses monitoring dan evaluasi implementasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *